Mengapa Kita Harus Menggunakan Materai?

siamplop.net – Sebagian besar orang menganggap perjanjian yang ia lakukan telah sah hanya karena surat kontrak perjanjiannya telah ia tandatangani diatas materai seharga enam ribu rupiah. Pasalnya mereka beranggapan bahwa tanpa materai perjanjian tersebut bisa dianggap tidak sah atau bahkan batal.

Kenyataannya paradigma ini terang adalah satu kekeliruan sebab materai tidaklah sinyal sudah sahnya satu kesepakatan. Kenapa sekian?

Merujuk pada Pasal 1320 KUH Perdata, satu kesepakatan bisa disebutkan sah jika penuhi 4 prasyarat tersebut :

– Ada perjanjian dari beberapa pihak yang ikut serta ;
– Ada kecakapan dari beberapa pihak yang buat kesepakatan ;
– Objek kesepakatan telah terang serta tentu ;
– Kesepakatan itu meliputi hal yang halal dan tidak tidak mematuhi ketetapan hukum yang berlaku.

Dari ke-4 prasyarat di atas terang tak ada prasyarat “harus dibubuhi materai” atau semacamnya yang terkait dengan materai. Kriteria ada perjanjian dari beberapa pihak yang ikut serta memanglah memerlukan surat kesepakatan yang butuh di tandatangani oleh tiap-tiap pihak di atas materai. Walau demikian ini bukanlah bermakna materai jadi bukti sahnya satu kesepakatan. Lalu untuk apa materai dipakai?

Dalam UU Nomor 13 Th. 1985 mengenai Bea Materai Pasal 1 dijelaskan,

“Dengan nama Bea Materai dipakai pajak atas dokumen yang dimaksud dalam undang undang ini”

Dari pasal di atas terang kalau materai berperan jadi bukti kalau dokumen itu sudah dipakai pajak, bukanlah bukti kalau dokumen itu sah. Spesial dalam problem kesepakatan, sepanjang ke-4 prasyarat di atas tercukupi jadi kesepakatan itu sudah sah walau surat perjanjiannya tidak di tandatangani di atas materai.

Walau demikian dalam Pasal 2 ayat (3) UU Nomor 13 Th. 1985 dijelaskan bahwa

“Dikenakan juga Bea Materai atas dokumen yang dipakai jadi alat pembuktian di muka Pengadilan, meliputi :

1. Surat-surat umum serta surat-surat kerumahtanggaan ;

2. Surat-surat yang awal mulanya tidak dipakai Bea Materai berdasar pada maksudnya, bila dipakai untuk maksud beda atau dipakai oleh orang yang lain, beda dari maksud awal mulanya. ”

Dari pasa di atas terang kalau jika surat kesepakatan yang Anda bikin nanti juga akan jadikan alat pembuktian di Pengadilan (umpamanya bila satu waktu berlangsung sengketa), surat itu sebaiknya mempunyai materai. Pengadilan akan tidak terima surat kesepakatan yg tidak bermaterai karna hal semacam ini ditata di dalam undang-undang. Oleh karena itu dalam pembuatan surat kesepakatan biasanya senantiasa disuruh untuk lakukan sinyal tangan di atas materai agar jika satu diantara pihak tidak mematuhi isi kesepakatan bisa dikerjakan dengan hukum lewat pengadilan yang sah.

Bagaimana bila terlanjut buat kesepakatan tanpa ada materai? Perjanjiannya tetaplah sah serta berlaku sebagaiamana harusnya sepanjang ke-4 prasyarat di atas tercukupi. Tetapi surat kesepakatan ini tidak mempunyai kemampuan jadi alat pembuktian yang sah dimuka pengadilan. Untuk memberikan kemampuan alat pembuktian ini Anda diijinkan buat surat kesepakatan yang baru serta semua pihak yang ikut serta lakukan tandatangan kembali di atas materai.